Profesionalisme dalam Perspektif Islam

Disadari atau tidak, kenyataan menunjukkan bahwa negara-negara Islam atau negeri-negeri yang penduduknya mayoritas Islam termasuk negara atau negeri-negeri yang terbelakang baik dalam ekonomi maupun politik, terpuruk dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Salah satu faktor penyebab keterpurukan itu terkait dengan persoalan profesionalisme.

Profesionalisme biasa diartikan secara sederhana adalah suatu pandangan untuk selalu berfikir, berpendirian, bersikap dan bekerja sungguh-sungguh, dengan disiplin, jujur, dan penuh dedikasi untuk mencapai hasil kerja yang memuaskan. Sebagai sebuah konsepsi masyarakat modern, profesionalisme paling tidak memiliki dua karakteristik. Karaketeristik pertama meniscayakan adanya pengetahuan dan ketrampilan spesifik yang terspesialisai, sedang karakteristik kedua bersumber dari integritas moral dan budaya.

Ilmu pengetahuan dan ketrampilan khusus terspesialisasi menjadi prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh para profesionalis. Kemampuan individual ini masih perlu didukung oleh sistem manajemen dan organisasi kerja yang tepat, yang dapat menempatkan individu pada posis yang tepat. Jelasnya, individu yang memiliki ilmu pengetahuan dan ketrampilan khusus terspesialisasi hanya akan menjadi profesional jika ditempatkan pada tugas (job) atau posisi yang tepat (the right man on the right place). Dalam Al Qur’an Allah berfirman yang artinya katakanlah setiap orang bekerja menurut keadaan masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al Isra’).

Sedangkan karakteristik kedua tentang integritas moral dan budaya, mencakup kejujuran, disiplin, rajin, tepat waktu dan lain-lain. Meruapakan kode etik dan pedoman setiap para profesional dalam bekerja. Kurang lebih lima belas abad yang lalu Islam telah mengajarkan umatnya tentang integritas moral atau kode etik. Berikut butir-butir penting dalam Al Qur’an dan Hadist yang menyuruh bekerja secara profesional:

  1. Bekerja sesuai dengan kemampuan atau kapasitasnya (QS. An’am: 135, Az Zumar: 39 dan Huud: 93)
  2. Bekerja dengan hasil terbaik (QS. Al Mulk: 2)
  3. Bekerja sesuai dengan bidang keahlian (QS. Al Isra’: 84)
  4. Jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya (HR. Bukhari)
  5. Bekerja sesuai dengan patut dan layak (QS. An Nahl: 97, Al Anbiya’: 94, dan Al Zalzalah: 7)

Selanjutnya pada ayat yang lain Islam mendorong umatnya agar:

  1. Memiliki kejujuran (QS. Al Ahzaab: 23-24)
  2. Kerjasama dan tolong-menolong dalam kebaikan (QS. Al Maidah: 2)
  3. Bekerja dengan penuh tanggung jawab karena selalu diawasi Allah, Rasul dan masyarakat (QS. At Taubah: 105)
  4. Sederhana dan tidak berlebih-lebihan (QS. Al A’raaf: 13, Al Israa’: 29, Al Furqaan: 67, dan Ar Rahman: 7-7)
  5. Rajin dan bekerja keras (QS. Al Jumu’ah: 10)
  6. Disiplin (QS. Al Hasyr: 7)
  7. Hati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan (QS> Al Hujurat: 6)
  8. Berlomba-lomba dalam kebaikan (QS. Al Baqarah: 148, Al Maidah: 48)
  9. Jujur dan dapat dipercaya (QS. An Nisa’: 58, Al Baqarah: 283, Al Mu’minun: 8)

Etos kerja dan semangat seorang muslim sangat tinggi, serta tidak pernah berputus asa karena Allah melarang hal itu. Dalam suatu hadist (riwayat Ahmad) Rasulullah SAW telah bersabda: “Apabila salah seorang kamu menghadapi kiamat sementara di tangannya masih ada benih hendaklah ia tanam benih itu”.

Demikianlah, Islam memiliki ajaran yang menjunjung tinggi nilai dasar kerja dan mendorong umatnya bersikap profesional. Sejarah membuktikan tatkala masyarakat Barat dan Eropa menempatkan kelas pendeta dan militer pada kedudukan tinggi, Islam justru menghargai orang-orang berilmu, para pedagang, petani, tukang, dan pengarajin. Sebagai manusia biasa, mereka tidak diunggulkan dari yang lain, karena Islam menganut nilai persamaan diantara sesama manusia. Ketinggian derajat manusia semata-mata diukur dari ketakwaanya kepada Allah, yakni derajat keimanan dan amal salehnya.

Semua petunjuk yang ditemukan dalam Al Qur’an tersebut menjadi landasan etis-telogis kerja dan pengembangan etos profesionalisme setiap muslim, sehingga kaum muslimin diharapkan memiliki semangat kerja dan etos profesionalisme yang lebih tinggi dibanding umat lainnya.

Profesionalisme tuntunan ibadah

Semangat kerja dan etos profesionalisme seorang muslim tidak hanya berkembang karena ada tuntutan realitas empirik masyarakat modern, melainkan dilandasi oleh semangat keberagaman sebagai bagian dari amal saleh yang menjadi prasyarat ketakwaannya. Dengan kata lain, dalam melakukan suatu karya atau pekerjaan, seorang muslim tidak hanya demi memenuhi kebutuhan hidupnya semata, melainkan karena agama mendorongnya, dan oleh karenanya merupakan salah satu bentuk pengabdian (ibadah) kepada Tuhannya.

Namun disayangkan, landasan telogis kerja dan etos profesionalisme yang dimiliki umat Islam tersebut di atas tidak sepenuhnya membumi dan membudaya di kalangan masyarakat muslim. Terjadi kecenderungan kemerosotan semangat kerja dan etos profesionalisme di dunia Islam, sehingga fakta menunjukkan sebagian besar negeri-negeri mayoritas umat Islam dalam keadaan terpuruk dan terbelakang.

Dari para pakar sejarah menemukan antara lain penyebab merosotnya etos profesionalisme adalah akibat pemerintahan feodal yang dzalim. Pada masa itu para elit bangsawan yang hidup bermewah-mewah dan otoriter, menyebabkan motivasi umat untuk bekerja menjadi merosot. Dalam keadaan tertindas, rakyat menjadi pasrah dan tak berdaya, yang akhirnya menempuh kehidupan “tasawuf” atau sufi dan menjadi seorang “zahid” yang menghindari kehidupan dunia (lebih berorientasi pada kehidupan akhirat) sampai yang bersikap apatis terhadap dunia. Walaupun kebenaran alasan sejarah tersebut masih banyak diperdebatkan, namun paling tidak dapat menjadikan suatu peringatan agar sikap keberagaman umat Islam telah benar-benar sesuai dengan semangat Al Qur’an dan Sunnah.

Islam adalah agama yang menekankan penghayatan atau realisasi ajarannya dalam kehidupan, mengutamakan pengungkapan pengalaman keagamaan (religious experience) pada para pemeluknya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri (QS. Ar Ra’du: 11). Tepat seperti dikatakan Ismail al Faruqi (Al Tawhid: Its Implication for Thought and Life, 1995) bahwa Islam lebih merupakan a religion of action dari pada a religion of faith. Sejarah peradaban Islam yang bertahan berabad-abad (abad ke-9 s/d ke-13) adalah bukti profesionalisme masyarakat Islam dalam menjalankan roda kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pada sisi lain dalam kehidupan sehari-hari sering dipertentangkan antara bekerja dengan keikhlasan dengan kerja secara profesional. Kerja ikhlas atau lillahi ta’ala mempunyai konotasi kerja dengan kemampuan seadanya, minimalis dan tidak produktif. Sebaliknya kerja yang profesional identik dengan kerja yang efisien dan produktif serta serba uang. Pandangan atau pengertian begini tidak benar dan menyesatkan. Seorang Muslim yang seluruh hidupnya untuk ibadah pada Allah, dimana Allah selalu mengawasi dan meminta pertanggungjawaban dikelak hari kiamat, maka dia akan selalu bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Rewrited from Buletin Masjid Baiturrahim Edisi 94 th

2 thoughts on “Profesionalisme dalam Perspektif Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*
Website